A Relational Being - Alvi Rajagukguk (True Worshippers)

Hubungan bisa mendukung kesehatan fisik..

Ada survei/riset (dari universitas) pada 350rb orang dlm kurun waktu 7.5 tahun dan didapatkan:
- Daya tahan hidup 50% lebih baik jika bisa bersosialisasi dengan baik
- Ketika seseorang terlibat dalam suatu komunitas/lingkungan sosial, ia akan merasa bertanggungjawab terhadap kehidupan orang lain
- Pertemanan bisa mendorong sistem imunitas tubuh seseorang bekerja lebih baik
- Mereka yang terisolasi 3x lebih berisiko meninggal dunia dibandingkan mereka yang memiliki hubungan relasional yang kuat

Kejadian 1:26
26: Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita m
enjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Sejak awal, manusia diciptakan menjadi makhluk KITA & bukan makhluk AKU » tidak pernah ada di benak Tuhan kalau manusia akan hidup sendirian


Kejadian 2:18
18: TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya,
yang sepadan dengan dia."

Seorang diri saja » bahasa ibrani: badad » terpisah

"Badad" (Ibrani) = separation;
By implication a part of the body, branch of a tree

Ayat itu ditulis sebelum Hawa diciptakan. Dari Kejadian 1:1 Tuhan selalu berkata baik atas apa yang diciptakannya, namun baru di Kejadian 2 baru keluar perkataan: "Tidak Baik"

Our God is a relational God
Meskipun Adam jatuh dalam dosa, Tuhan tidak rela hubunganNya dengan ciptaanNya putus, sehingga Ia mengirimkan Adam ke-2 (Yesus)

Kalau kita tidak hidup di dalam komunitas:
1. Perspektif yang salah (tentang hidupnya)
» Gampang putus asa, merasa ga ada jalan keluar untuk masalahnya » kenapa?
Karena tidak punya orang lain untuk mengukur sejauh/separah apa masalah kita..
Amsal 12:26

2. Takut akan keintiman
» Takut untuk terbuka, tidak mau mengakui kelemahan di hadapan orang lain

3. Egoisme
» Orang yg tidak punya komunitas cenderung egois, cenderung mementingkan diri sendiri, yang penting aku, saya, diriku, dll

Amsal 18:1
1: Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan.


Don't win the arguments, but win the relationship

Kisah Para Rasul 2;46-47
46: Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah.
Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
47: sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah  mereka dengan orang yang diselamatkan.


Dengan tertanam di gereja lokal, ada 3 hal yang didapat:
1. Kestabilan
Tertanam » berakar
Tertancap » tidak berakar
Kalau stabil, kita tidak akan hidup seperti yoyo (naik turun terus)

1 Korintus 5:11
11: Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara,
adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.

Amsal 13:20
20: Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.



Bedanya berteman dengan bergaul:
Berteman » cuma perlu modal ada nomor telpon
Bergaul » perlu bertukar pikiran, terbuka, makan siang bareng, dll


2. Kedewasaan
-Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan
- Yg perlu didewasakan » Iman, pengharapan, kasih, kerohanian, dll
- Perlu komunitas/komsel utk mengkondisikan hal tersebut

You can't never grow in the isolation


1 Korintus 15:33
33: Janganlah kamu sesat:
Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
Bila pertemanan kita tidak membawa kepada kedewasaan, hubungan tersebut layak untuk dipertimbangkan ulang..

3. Hidup yang "Makmur"
Mazmur 1:1-3
1: Berbahagialah orang yang tidak berjalan
menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2: tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
3: Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.


Buah » hidup yang produktif

Syarat:
- Harus cinta firman Tuhan (ayat 2)

- Tidak berjalan menurut nasihat orang fasik dll (ayat 1)

Ada 3 orang yang perlu kita miliki:
-Berjalan » orang yang menginspirasi, yang menunjukkan jalan lebih dulu ke kita, orang yang sayang dgn kita yg berani jujur dengan brutal pada kita, orang yang berhasil lebih dulu dlm bisnis, rohani, dll
-Berdiri » orang yang dgn mereka kita bersama-sama berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik » sama2 pelayan Tuhan, sama2 berbisnis, sama2 berjuang, atau dlm bentuk "besi menajamkan besi" » besi bisa menajamkan besi kalau mereka "menempel"
-Duduk » posisi belajar » mengajarkan kepada orang lain yang sedang belajar » bersaksi tentang pengalaman dengan Tuhan » alirkan ke orang lain agar tidak menjadi "laut mati"

Izinkan kita didewasakan oleh Tuhan dan orang lain
Izinkan untuk kita diperbesar kapasitas hatinya dan diperluas pikiran dan wawasannya

Kelemahan Kaum Imam - Berdalih


Keluaran 32:21-24

Lalu berkatalah Musa kepada Harun: "Apakah yang dilakukan bangsa ini kepadamu, sehingga engkau mendatangkan dosa yang sebesar itu kepada mereka?" Tetapi jawab Harun: "Janganlah bangkit amarah tuanku; engkau sendiri tahu, bahwa bangsa ini jahat semata-mata. Mereka berkata kepadaku: Buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir--kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia. Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini."

            Kalau kita telusuri ayat di atas, kita akan menemukan kesalahan yang dibuat Harun sebagai calon imam besar kala itu. Ia telah berdalih dan melimpahkan kesalahan pada orang lain. Mari kita lihat ayat sebelumnya, yang akan menjadi perbandingan untuk kita sehingga kita tahu kalau Harun berdalih.

Keluaran 32:1-6

Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: "Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir--kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia." Lalu berkatalah Harun kepada mereka: "Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku." Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!"
 Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: "Besok hari raya bagi TUHAN!" Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.

            Coba anda perhatikan kalimat yang digaris bawahi dari kedua ayat di atas (Keluaran 32 ayat 24b dan 4a). jika kita menyimak dengan seksama, Harun bukan saja hanya berdalih, namun juga berdusta. Sebab, jelas ayat di atas mengatakan bahwa ia membentuknya sendiri, namun di ayat yang lain ia mengaku pada Musa bahwa lembu itu keluar dari api. Harun berdalih dan melemparkan kesalahan kepada orang Israel untuk menutupi kesalahannya sendiri.

            Kita harus berhati-hati dengan hal ini, kejujuran terhadap Tuhan dan diri sendiri serta orang lain, akan membuat kita terhindar dari jerat untuk berdalih dan menyalahkan kesalahan kepada orang lain atas kesalahan kita sendiri.

Kelemahan Kaum Imam - Terbiasa Dengan Hadirat Tuhan

            Sebagai seorang imam yang sering membawa korban kepada Tuhan, dan terus dibawa masuk dalam hadirat Tuhan, pada akhirnya hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Tidak ada lagi hasrat dan gelora saat berada di hadirat-Nya. Kita menganggap hadirat Tuhan itu sesuatu yang biasa sehingga rasa hormat kita kepada hadirat Tuhanpun hilang.

2 Samuel 6:6-7

Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.

            Ketika kita membaca seluruh perikop ini, kita mungkin berpikir bahwa apa yang dilakukan Uza adalah benar. Ia mau menyelamatkan tabut yang akan tergelincir. Bukankah itu baik? Ya. Namun jika kita telusuri lebih dalam; apa yang dilakukannya jelas salah. Kenapa salah?

            Saat tabut itu telah dikembalikan ke Israel oleh orang Filistin yang telah merampasnya, mereka menaruhnya di rumah Abinadab yang merupakan ayah dari Uza. Selama kurang lebih dua puluh tahun Uza melihat dan berhadapan dengan tabut. Hal ini membuat ia menjadi biasa dengan tabut tersebut. Ia menganggap tabut tersebut hanya benda biasa. Hal ini yang membuat ia kurang hormat dengan hadirat Tuhan yang ada di tabut tersebut. Sebab sebagai seorang imam ia seharusnya tahu bahwa tabut tersebut tidak boleh diangkat dengan menggunakan lembu, melainkan harus digotong oleh para imam. Keterbiasaan itu membuat ia kehilangan hormat dan mengabaikan cara-cara Tuhan, sehingga saat lembu itu tergelincir dan Uza berusaha untuk menyelamatkan tabut tersebut, maka murka Tuhanpun datang.

            Saat Harun membuat lembu emas ia berkata bahwa itu adalah allah, ia secara tidak langsung sendang merusak citra diri Allah dan merendahkan kemuliaan Tuhan. Ia sedang merendahkan Allah dan menganggap hadirat dan penyertaan Tuhan pada bangsa Israel hanyalah perkara yang sepele. Ketika kita sedang mengecilkan hadirat dan kekudusan Tuhan, maka kita sudah keluar dari apa yang Tuhan mau, yakni menjadi seorang imam yang berkenan.

            Kita harus memelihara rasa hormat dan kekaguman kita terhadap hadirat Tuhan dengan cara terus membina pergaulan yang intim dengan-Nya. Sebab, ketika kita berada dalam hadirat Tuhan, kita akan benar-benar bertemu dengan pribadi-Nya. Dan pribadi-Nya tersebut akan mengubahkan diri kita.

            Semua jerat yang sudah dibahas kiranya membuat kita sadar dan berhati-hati serta meminta anugerah dari Tuhan untuk tetap sejalan dengan kehendak-nya. Kunci untuk tetap memiliki hati yang benar dan bagaimana menjadi imam yang berjalan dalam kebenaran adalah apa yang tertulis dalam Galatia 2:20 " namun aku hidup tetapi bukan aku lagi yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.”

Disalin dari Buku: "Jalan Keimaman" by Ev. Daniel Krestianto